Bingung Agama Warisan



Oleh : Ilyas Horeba

Agama Warisan Kaum Jahiliyyah Pembangkang Utusan Tuhan

Sebagian manusia sering kebingungan memahami proses kejadian. Sebagian mereka berpikir bahwa alam dunia ini ada akibat dari kebetulan. Benarkah?
.
Kebetulan adalah sebuah proses yang tidak disengaja. Apakah proses yang tidak disengaja ini mutlak tanpa ada pengaruh apapun dan dari siapapun? Contoh, jika ada seorang perempuan yang bertemu laki-laki di suatu tempat. Singkat cerita mereka menikah. Sang wanita akibat dari kurangnya pengetahuan mengenai kejadian pertemuannya dengan lelaki beranggapan itu adalah kebetulan. Karena sang wanita tidak bersengaja untuk bertemu lelaki tersebut. Namun usut demi usut, ternyata sang lelaki telah mengatur secara sembunyi-sembunyi agar bisa bertemu wanita tersebut. Oleh karena itu, anggapan adanya kebetulan hanya sebuah ungkapan dari kurangnya ilmu pengetahuan. Jika ada yang mengatakan bahwa dirinya lahir secara kebetulan dalam keluarga Islami di Indonesia itu akibat dari kurangnya ilmu pengetahuan tentang kelahirannya sendiri. Oleh karena itu, tuk baca kelanjutannya di bawah.

Sahabat, kita terlalu banyak menilai sesuatu di luar kita. Kita jarang untuk bercermin dan menilai apa yang sudah ada pada diri kita. Akibat dari itulah kita beranggapan bahwa agama adalah warisan dari orang tua. Itu sebuah pernyataan yang timbul dari kurangnya pengetahuan tentang bagaimana memahami diri sendiri. Ada yang mengatakan bahwa kita tidak memiliki jaminan untuk memilih agama yang kita yakini. Lagi-lagi itu hanya sebuah ungkapan dari kurangnya pengetahuan akibat dari kurangnya memahami diri sendiri. Lalu benarkah kita punya jaminan untuk mendapatkan dan memeluk agama apa yang kita inginkan? Tidak peduli dimana kita berada kita tetap bisa memiliki jaminan mendapatkan agama yang kita inginkan. Apa jaminan itu? Saya tanya kepada sahabat semua, betul sahabat tidak tahu jaminan untuk mendapatkan agama yang sahabat inginkan?

Tahukah sahabat, terdapat sebuah organ manusia yang mampu mengendalikan setiap sel-sel saraf di tubuh kita. Mampu bekerja luar biasa untuk dapat kontrol perilaku kita. Melakukan apa yang kita inginkan, bernafas, berpikir, makan, bahkan sampai BAB itu betul-betul dikendalikan oleh otak. James. D. Watson pernah mengatakan bahwa otak adalah hal yang paling kompleks yang pernah ada di alam semesta.

Betul sahabat, jaminan yang Tuhan berikan agar kita mendapatkan agama yang kita inginkan itu adalah tubuh kita sendiri. Yups, Kita lahir membawa tubuh kita, bukan?Otak hanya bagian terkecil dari jaminan Tuhan untuk kita memilih agama apapun yang kita inginkan.

Jadi, agama itu bukan warisan dan manusia memiliki jaminan untuk mendapatkan agama apapun yang dia inginkan.

Kita adalah manusia yang punya adab, kita tidak perlu memaksa orang lain untuk memiliki agama yang sama dengan kita. Karena kita paham betul itu adalah tindakan yang kurang memakai otak.

Lalu bagaimana dengan agama anak dan orang tua yang sama? Apakah itu agama warisan? Sebetulnya, saya tersenyum bahkan mungkin sedikit tertawa dengan adanya klaim agama warisan ini. Xixiixxi.

Sahabat jika agama kita sama dengan agama orang tua kita, itu bukan berarti akibat dari warisan dan bukan agama warisan. Seorang anak memiliki daya pikir untuk tetap atau merubah agamanya tanpa harus sama dengan orang tuanya. Jika anak memilih untuk tetap pada agamanya itu karena pilihannya sendiri bukan karena warisan. Bukankah si anak ini tidak melakukan pilihan untuk mendapatkan agamanya? Kata siapa si anak tidak melakukan pilihan memeluk agamanya? Istiqomah adalah sebuah pilihan. Istiqomah adalah perilaku atas pilihan dari perubahan. Istiqomah itu tidak mudah. Kita istiqomah di jalan Allah itu tidak mudah. Perlu usaha, perlu belajar dan perlu berpikir tentunya. Oleh karena itu, agama bukan warisan. Karena agama yang sama dengan orang tua itu memerlukan sikap istiqomah dan sikap istiqomah adalah pilihan lain dari perubahan.

Agama Warisan itu hanyalah mitos. Tidak ada namanya agama warisan. Jika ada bisa dipastikan para penganutnya adalah zombie dan orang gila yang tidak mampu berpikir jernih sehingga dia tidak bisa memilih untuk tetap istiqomah atau berubah.

Jika disebutkan bahwa ada agama warisan, itu adalah agama kaum Jahiliyyah dari kaum  para utusan Tuhan yang membangkang. Saat para rasul dan nabi berdakwah mengajak untuk agama yang benar, mereka malah menjawab seperti berikut :

“Mereka menjawab, “Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah ADAT KEBIASAAN orang-orang terdahulu dan kami tdk akan diazab” (Q.S: asy-Syuara: 136-138)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak!) kami mengikuti apa yang kami dapati pada NENEK-MOYANG kami (melakukannya),” padahal nenek-moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan TIDAK mendapat petunjuk.” (Q.S: al-Baqarah: 170).

“Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian (mengikuti) kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati BAPAK-BAPAK kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).

Inilah contoh agama warisan, dimana orang-orang ini tidak mau mengikuti para utusan Tuhan dengan berpikir yang benar, malah mereka mengikuti agama warisan nenek moyang mereka tanpa mau berpikir.

Hujah atau alasan mereka untuk menolak para utusan Tuhan adalah karena mereka punya agama nenek moyang MEREKA bukan karena pilihan dengan cara berpikir benar.

Itu satu-satunya literatur mengenai agama warisan yang saya dapatkan dalam Qur’an. Jika mau dipaksakan bahwa agama warisan itu memang ada.

Perhatikan ayat di bawah ini baik-baik.

“Pada hari ketika wajah-wajah mereka dibolak-balikkan di dalam neraka, mereka berkata, aduhai, seandainya dulu kita mentaati Allah dan Rasul. Mereka berkata, wahai Rabb kami, sesungguhnya kami (dahulu) mentaati tokoh-tokoh dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang lurus), wahai Rabb kami, berikanlah kepada mereka siksaan dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar” (QS. Al-Ahzaab: 66-68).

Negara tercinta kita tidak pernah melarang persaingan untuk menjadi manusia yang baik. Persaingan itu sehat jika dilakukan dengan cara yang benar. Jadi tidak masalah jika sahabat ingin bersaing dengan orang lain untuk menjadi manusia yang baik, berbudi luhur, cinta tanah air, cinta toleransi, berbakti pada orang tua, negara dan bangsanya. Silahkan bersaing untuk menjadi manusia yang seperti itu. Itu bagus malah.

Persaingan itu tidak boleh jika dilakukan dengan cara yang salah. 

Bukankah kita bineka tunggal ika? Kebinekaan adalah keberagaman. Keberagaman sarat akan persaingan dan perbedaan.

Jangan anti kebinekaan dengan sikap anti persaingan karena perbedaan.

Sejak kapan persaingan itu “HARAM” di bumi pertiwi ini?

Undang-undang itu bisa diamandemen, selagi sesuai dengan konstitusional kenapa tidak kita bersaing dengan cara yang benar sesuai konstitusional. Karena konstitusional adalah kompromi kita bersama.

Cara berpikir kita berbeda boleh namun marilah kita sama-sama berpikir benar bukan berpikir salah.

Related Posts

Bingung Agama 8666696542125673606

Posting Komentar

Search

Follow us

Popular Posts

Labels