Bingung Agama Warisan 2 - Revolusi Bingung Berjamaah



Oleh : Ilyas Horeba

Revolusi Bingung Berjamaah

Salah satu syarat penting menjadi penguasa adalah dengan membuat manusia mudah dikendalikan. Menjadi lebih unggul dari yang lain adalah cara termudah menguasai lingkungan. Oleh karena itu, kebiasaan penguasa yang zalim untuk tetap dalam kekuasaannya adalah dengan cara membuat masyarakat bingung terhadap jati dirinya. Keadaan bingung pada manusia bingung ini dimanfaatkan agar jauh lebih mudah dikuasai dari pada manusia yang sadar diri.

Segala macam dibuat tidak jelas, samar dan serba bingung, tentu saja harus sesuai dengan tuntutan syarat kekuasaan. Oleh karena itu, Penguasa membutuhkan sosok yang mampu menjadi tren senter masyarakat sebagai sosok contoh yang seharusnya diikuti(versi penguasa) dengan simbol “kebingungan”.

Memunculkan sosok ini dan memnbuatnya viral diperlukan robot-robot sebagai penyorak yang secara sadar atau tidak sadar dengan senang hati bersorak tanpa kejelasan dan cenderung bingung. Bayaran massa kadang diperlukan sebagai penggerak roda energi semangat mereka agar tetap bersorak riang sesuai titah para penguasa. Terlebih, ada media sosial yang menjadi wadah kebingungan serta mampu dengan mudah membuat orang menjadi sosok yang terkenal dalam waktu yang sangat singkat.

Agama Bingung “Ogah” Spesifik

Agnostik asal kata dari “A” artinya “tidak”. Gnostik memiliki arti “tahu”. Maka Agnostik artinya “tidak tahu”. Jika dikaitkan dengan keagamaan maka Agnostik adalah orang yang tidak tahu mana agama yang benar sehingga dia tidak spesifik dalam hal keagamaannya. Biasanya sosok seperti ini dubutuhkan sebagai peredam kekuatan, akibat dari tekanan salah satu agama yang cukup kuat, sehingga sosok bingung agama ini dibuat menjadi sosok tren senter.

Sosok bingung agama ini harus memiliki potret yang sama dengan agama yang sedang menguat tersebut. Secara tampilan luar terlihat sama, memakai baju yang kental dengan keagamaan, namun secara akidah keyakinan jelas jauh panggang dari pada api.

Setelah sosok ini dibuat viral, langkah berikutnya adalah mengundang sosok bingung ini ke beberapa acara TV lalu diberikan penghargaan dan kehormatan, terserah walaupun banyak hujatan dan cibiran dari lintas masyarakat, tetap saja sosok ini harus menjadi tren senter anak muda dan keagamaan. Agar lebih menjanjikan lagi, sosok ini dibuat sangat sempurna. Walaupun begitu terkenal dengan kesempurnaan absurd-nya, Allah menunjukan kuasa bagi manusia berpikir sebagai petunjuk penting bahwa ternyata sosok ini dengan senang hati menjiplak banyak karya orang lain. Sungguh miris. Apa hendak dikata , yang buta tetap dalam kebutaan dan yang tuli tetap dalam ketuliannya.

Masyarakat saat ini sudah mulai cerdas mampu melihat dengan jelas pencitraan yang terlalu dipaksakan. Hal seperti ini justru akan menambah gesekan-gesekan yang ada. Sehingga membuat kondisi semakin runyam.

Membuahkan pencitraan memang bukan sembarang dan tidak dilakukan secara singkat hari, namun dilakukan dengan waktu yang sangat lama. Proses pencitraan ini biasa dilakukan untuk menggaet orang-orang bingung agar ikut “bingung berjamaah” dan mulai dikendalikan.

Trending topik juga menjadi salah satu alat untuk membuat “amnesia” masyarakat, bisa jadi sosok ini menjadi tren senter tidak hanya untuk memperkenalkan ajaran kebingungannya, namun untuk juga menutup kasus viral sebelumnya tentang sosok lain yang sebelumnya dicitrakan baik yang saat ini berada di dalam sel tahanan. Atau pula untuk menututpi dengan sempurna kasus penyiraman air keras terhadap salah satu lembaga penting.

Islam sudah sempurna dan tidak butuh “sosok bingung” untuk membuat Islam menjadi agama yang toleran. Toleransi adalah kewajiban dalam Islam. Mereka yang tak toleransi tidak memakai otaknya dengan benar. Maka dari itu, kehadiran sosok bingung ini tidak akan membuat lebih baik namun akan membuat benturan semakin tajam. Karena sosok bingung ini memang diciptakan untuk kepentingan politik semata.

Mari kita sama-sama berpikir benar, memahami fokus masalah pada akarnya. Jika ada api yang berkobar, biasakan untuk memadamkan api bukan malah memadamkan asap. Tidak ada asap jika tidak ada api.

Al Anfaal: 22

Sesungguhnya sejelek-jelek makhluk yang melata di sisi Allah ialah orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mau menggunakan akal (alladziina laa ya’qiluun). 

Yunus: 42

Dan di antara mereka (yang ingkar) itu, ada yang datang mendengar ajaranmu; maka engkau (wahai Muhammad) tidak berkuasa menjadikan orang-orang yang pekak itu mendengar kalau mereka menjadi orang-orang yang tidak mau berakal (laa ya’qiluun).

Related Posts

Bingung Agama 1338600929559075522

Posting Komentar

Search

Follow us

Popular Posts

Labels