Cinta antara Ada dan Tiada
Mungkin aku bukanlah orang yang lebih paham tentang cinta, mungkin aku akan ceritakan tentang cinta yang berbeda. Jadi, mau percaya atau tidak dengan artikel ini itu terserah anda, yang jelas, saya menganjurkan untuk percaya. Heuheu.
Cinta, apa itu cinta? Bila kita mau bicara tentang cinta, apakah kita harus pernah merasakan tentang cinta? bagaimana mencintai juga dicintai? Mungkin saja. Yang jelas, cinta hakekatnya bukanlah permainan, bukanlah percobaan. Jika semua tentang cinta aku bahas di sini, pasti akan membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Cinta adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan, tanpa adanya cinta, hidup akan terasa biasa adanya. Semangat tanpa cinta hanyalah semangat biasa, bukan semangat luar biasa, bekerja tanpa cinta, hanyalah bekerja biasa, bukan bekerja luar biasa, belajar tanpa cinta, bukanlah belajar luar biasa. Pokoknya, apapun tanpa cinta, bukanlah sesuatu yang luar biasa. Seringkali kita merasakan cinta. Tapi tidak tahu bahwa itu cinta, kita tidak ngeh bahwa itu cinta. Seperti itukah dahsyatnya cinta? Sebesar itukah pengaruhnya? Pengaruh cinta memang dahsyat dan sangat besar bagi yang mencintai juga yang dicintai.
Ada kaitan erat antara cinta dan kebahagiaan. Jadi, kalau ada yang bilang bahwa cinta adalah penderitaan, itu tidak masuk akal. Cinta adalah kebahagiaan yang tiada tara, yang merasuk ke dalam lubuk sanubari hati yang terdalam.
Ada tiga hal yang sangat penting yang ada dalam cinta. Dari ketiganya ada satu hal yang lebih penting yang sangat sekali sering dilupakan. Ketiga hal itu adalah kepercayaan kesetiaan dan ketulusan, . Menurutmu manakah yang lebih penting? Oke kita akan membahasnya satu-satu, setelah pembahasan silahkan menilai sendiri.
Kepercayaan sangat penting dalam cinta, tanpa kepercayaan, cinta tidak akan nyaman, semua mudah dicurigai. mudah salah paham, mudah marah dan akhirnya benci, setelah itu, mungkin lebih parah lagi, yaitu malah melukai. Jadi, penting sekali menanamkan kepercayaan saat mencintai. Lalu apakah kita harus selalu percaya Walaupun dengan kebohongan? Atau jugakah kita harus percaya dengan kesalahan? Bila kita hanya mengandalkan kepercayaan, kita akan tertipu juga dengan kesalahan. Contoh, jika kita mencintai seseorang, kita percaya sepenuhnya pada apa yang dia katakan, karena saking cintanya maka kita sangat percaya, walau dengan kebohongan yang justru akan memperburuk keadaan. Cinta bukanlah seperti ini, ingat cinta adalah kebahagiaan !
Kesetiaan juga punya peran yang sangat dalam terhadap cinta. Apa jadinya cinta tanpa kesetiaan? Betul, yang ada hanyalah permainan, mudah untuk berkhianat dan tentu saja itu juga melukai. Oleh karena itu, mengapa banyak orang yang mendefinisikan cinta dengan penderitaan, karena tidak ada kesetiaan dalam cinta. Lebih parah lagi memang masalahnya kalau kesetiaan ini tidak ada. Lalu, apakah cinta dengan kesetiaan itu sudah cukup benar? Apakah dengan kesetiaan cinta akan dibenarkan? Apakah kita harus setia dengan kebohongan dan kesalahan, apakah kita harus setia dengan kesesatan, dengan maksiat, dengan dosa dari orang yang kita cintai atau dari sesuatu yang kita cintai ? wah wah, gawat juga yah. Jadi harus bagaimana dong ??? tenang para pembaca sekalian, masih ada satu hal yang belum dibahas.
Ketulusan, apa itu ketulusan? jujur saja, dari namanya saja sudah menentramkan, menyejukan, melegakan. Ketulusan adalah benang merahnya cinta, instisari (istimbat). Ketulusan dalam KBBI adalah asal kata dari tulus yang artinya : sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci) jujur ; tidak pura-pura; tidak serong ; tulus hati ; tulus ikhlas. Itu menurut KBBI. Ketulusan itu Bersih tidak ada hal yang tidak baik, tidak ada nafsu yang tidak baik, bersih dari kesalahan. Bersih dari kemauan yang menghinakan, bersih dari keinginan yang mencelakai. Fokus pada kebaikan yang dicintainya. Dengan adanya ketulusan dalam cinta, kita dapat menyaring keburukan dari kepercayaan yang menyesatkan dan dari kesetiaan yang merugikan. Kita tidak akan ikut-ikutan percaya dengan kebohongan dari apa dan siapa yang kita cintai. Kita tidak akan setia dengan kesesatan dari apa yang kita cintai. Ketulusan mengontrol kepercayaan dan kesetiaan yang salah. Karena orang yang tulus mencintai akan memikirkan kebaikan yang dicintainya. Oleh karena itu, saat orang mencintai dengan tulus, maka yang dia inginkan adalah apa yang baik untuk yang dicintainya. Walaupun yang dicintainya tidak bersamanya dan memilih bersama orang lain, dia tidak terluka juga tidak menderita, karena dia mengerti bahwa kebahagiaan orang yang dicintainya adalah bersama orang lain tersebut, dia tidak memikirkan perasaan sendiri, tapi dia memikirkan perasaan dan kepentingan orang yang dicintainya. Kebahagiaan yang dicintainya adalah kebahagiaan dirinya jua. Tulus bahwa setiap cinta sejati adalah datangnya dari Tuhan.
Kita tidak perlu mendahulukan kepercayaan dan kesetiaan, yang kita harus lakukan adalah menjadi tulus, karena dengan ketulusan, kepercayaan dan kesetiaan akan muncul dengan sendirinya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah. Maka ia sesungguhnya telah memperoleh kesempurnaan iman.
Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.”
[HR. At-Tirmidzi no.1997]
Maksud dari kalimat ini adalah bukan tidak boleh besar kecintaan kita atau kebencian kita, yang dimaksud adalah kita harus mencintai dengan tulus, menerima apa adanya keadaan.
Inilah yang dinamakan ketulusan cinta. Takan pernah ada penderitaan dalam ketulusan cinta, yang ada hanyalah kebahagiaan. Dan cinta takan pernah dipuja menjadi tuhan karena kita tulus mencintai.
Hanya sedikit orang yang bahagia dengan cintanya karena sangat sedikit orang yang mengerti tentang ketulusan dan sangat sedikit sekali orang yang membaca artikel ini(mungkin). Wallahualam.
Indra REvolusi

Posting Komentar